About Me

Foto Saya
Canisian, sedang menimba ilmu di FEUI, bermimpi menjadi social worker..

Rabu, 11 Januari 2012

Trouble From Myself = DILEMA

Baru hari ini gw liburan setelah semester 5 yang melelahkan. Hari pertama libur sih lumayan dipake buat istirahat n having my me time. Maen game seharian dan nonton film. Cuman di hari ini juga gw menyadari kalau gw punya masalah dengan banyak hal. Masalah ini bukan masalah yang muncul karena orang lain, tetapi muncul dari diri gw sendiri. Agaknya karena ego diri gw sendiri sih. Itu yang bikin kesel. Ada beberapa hal.

Pertama sih antara diri gw sama orang tua gw. Gw suka merasa ter-annoyed banget sama orang tua gw. Kalo bokap gw sih kadang suka tetot. Mungkin karena udah mulai tua jadi pendengarannya terganggu. Gw kadang nyebut suatu hal tapi mesti gw ulang dan dengan nada agak kenceng. Tapi ketika nada gw kenceng rasanya ga sopan atau rasanya bokap gw tersinggung. Serba salah kan? Tapi bener-bener susah juga membiasakan diri. Kalo nyokap, emang dasarnya sifatnya itu agak cerewet dan mudah berkomentar tentang ini itu dan sambil lalu. Lagi nonton film, tiba2 komentar tentang filmnya atau sekedar mengeluarkan suara gitu deh ketika filmnya lagi seru atau lagi ramai. Atau kadang ada hal kecil yang kayaknya biasa aja dikomentarin dan dijadikan bahan pembicaraan sama mbak2 gw padahal itu ga penting sama sekali. Rasanya annoying banget. Tapi itu lah diri mereka. Dan gw merasa ga nyaman akan hal itu. Jadi intinya masalahnya ada di diri gw. Cuman gw bingung bagaimana menyikapinya. Bingung bagaimana harus bersikap. Damn..

Kedua antara diri gw sama kenyataan dan keadaan kalau gw tidak mendapatkan sesuatu yang gw ingini di akhir tahun lalu. Yeah itu udah so last year sih. Dan itu sudah menjadi suatu hal yang fix dan ga bisa diapa-apain lagi. Hitam diatas putih. Angka suara menentukan. Dan yang paling memuakkan adalah ini bisa dibilang merupakan kehendakNya. Ya semuanya itu kehendak Tuhan. Gw suka capek kalau mendengar hal itu. Rasanya gw harus menerima kekalahan dan kenyataan tentang ini itu tapi intinya semua sudah diatur secara otomatis dan kita ga akan tahu apa yang akan terjadi dimasa depan dan tinggal menunggu nasib saja. Itu hal yang gw tangkep. Jujur aja hal-hal yang berbau iman dan kepercayaan ini sudah mulai membuat gw meragukan iman gw sendiri. Ini masa-masa dimana gw merasakan krisis iman. Dilema banget dimana gw harus menerima kalau semua ini sudah diatur atau ini semua hanyalah suatu kenyataan belaka.
Kalau semuanya sudah diatur itu rasanya tidak seru. Ibarat pertandingan bola yang skor-nya sudah diatur. Nah apakah kecurangan semacam itu adalah sesuatu yang sudah diatur juga berdasarkan kehendakNya? Banyak banget pertanyaan di kepala gw yang muncul-muncul begitu saja. Rasanya benar-benar memuakkan. Jujur saja gw berusaha menerima semua keadaan yang terjadi akhir-akhir ini namun rasa-rasanya agak sulit dan menjadi sebuah backfire bagi diri gw. Bahkan jujur aja gw bener-bener muak kalau menemukan ada yang bilang semua ini rencanaNya, tunggu saja akan rencanaNya, pokoknya berserah, dan lain-lain. Religius sekali, namun memuakkan. Gw bisa bilang hal seperti ini bisa aja membawa gw menjadi seorang yang agnostik. Namun gw masih ingin berusaha untuk menstabilkan iman gw yang lagi rapuh serapuh-rapuhnya. Gw binguuuuuuungggg banget.. bener-bener ga tau bagaimana harus menyikapinya. Gw merasa gw seperti ini adalah gw yang terbawa dosa. Namun gw pun merasa posisi seperti ini adalah suatu yang wajar di dalam kehidupan manusia..

Lalu soal status dan peran. Menyambung dari poin kedua diatas, hitam diatas putih, maka peran gw adalah seperti ini. Namun terasa kalau gw ingin berperan lebih. Ketakutan gw adalah keluar batas, dimana bisa lepas dari wewenang gw dan berlaku seperti seseorang yang berada di paling atas. Ini juga super dilematik dimana lo harus mengatur diri lo supaya ga keluar jalur tapi secara naluriah lo ingin berperan lebih. Ini bener-bener ketakutan gw. Perfeksionis gw mulai keluar, takutnya ke arah negatif, dimana gw ingin segala sesuatunya berjalan sesuai keinginan gw namun ketika itu tidak bisa terjadi maka gw akan sangat kecewa atau kesal. Tapi di sisi lain gw harus bisa menempatkan diri. Kalau tidak, seluruh jajaran akan rusak dan tidak harmonis. Hal seperti ini muncul karena rasa seperti yang gw bilang, tidak bisa menerima kenyataan yang juga diblender sama iri hati. Bener-bener dilematik. Ingin agar segalanya lebih baik sesuai dengan keinginan gw namun segalanya dianggap lebih baik oleh pandangan orang lain itu beda dan tidak enak. Padahal tujuannya sama-sama ingin menjadi 'lebih baik'. Dilema.

Terakhir, kalau bertemu sama seorang Christmeister, ga akan jauh-jauh dari masalah cinta. hehe. Tapi seriusnya nih ya, dikala lo harus menahan perasaan lo ketika lo tahu pertemanan itu sedang dipertaruhkan, itu juga sebuah dilema. Dikala ketika lo naksir tapi pertemanan lo dengan seseorang ini akan dipertaruhkan, juga pertemanan lo dengan sahabat lo sendiri rasanya juga akan dipertaruhkan. Kalau bergerak lebih cepat, lebih terlihat, maka akan membuat segalanya berbeda kedepannya. Suasana nyaman yang selama ini sudah dibangun akan hilang begitu saja. Padahal perasaan ini makin kuat dan makin berbeda adanya. Dilema lagi kah? iyap. Damn.. Harus menahan diri sih yang ini. Namun masalah cinta ini yang biasanya memuakkan dan menyusahkan malah lebih mudah untuk dijalankan. Intinya sih, menjadi secret admirer itu obatnya. Emang agak rugi diri sendiri namun dikala gw bisa naksir tanpa orang lain tahu itu ada suatu kepuasan sendiri. Problem solved. Namun teteeeeeppppp harus menahan diri agar tidak keluar batas..

Yeah begitulah.. Dilema, thats the keyword.

Adieu

0 comments: