About Me

Foto Saya
Canisian, sedang menimba ilmu di FEUI, bermimpi menjadi social worker..

Senin, 31 Oktober 2011

Waiting For The End

Judul dari salah satu lagu baru dan lagu favorit gw yang dinyanyiin oleh band kesayangan gw Linkin Park..

Itu bukan lagu cinta, namun kalau dikorelasikan dengan cinta juga bisa-bisa aja. Hehe. Khususnya untuk yang sedang mengalami putus asa dalam cinta. Atau merasa harus melangkah ke lembar cerita yang baru dan meninggalkan buku yang lama. Pokoknya gitu deh. Dimana merasa bahwa segalanya harus berakhir dan berusaha mendapatkan sesuatu yang lebih pantas untuk diri sendiri. Nanti gw tulis deh liriknya. :)

Udah 376 hari terhitung hari ini, 31/10/2011 pukul 1.34 AM. Gw belum tidur, abis main FM, download lagu dan pas mau tidur, kepengen nulis ini deh.

Hmm.. Hari ini ya?

Hari ini gw pengen ngobrol banyak deh sama Rere. Nanti jam 10an pagi gw ketemu dia. Ingin ngomongin soal keadaan masing-masing, perasaan masing-masing dan apa yang harus dilakukan untuk kedepannya. Kondisinya, dia mau ke Jerman dan dia menyatakan tidak mau dan tidak bisa LDR. Lalu 2 bulan terakhir ini gw baru ketemu dia 7-8x dan gw merasa feel gw tidak seperti dulu lagi. Quality time-nya berkurang banget, dibanding dulu masih bisa ketemu minimal seminggu sekali dan main-main di kosan atau makan malem bareng lah minimal. Sekarang boro-boro weekend ketemu, yah sama-sama sibuk sih. Cuman makin lama feel yang ada berangsur-angsur hilang dan prioritas akan pacar bukan di papan atas list kami lagi. Selain itu, feel akan affection juga sudah mulai berangsur-angsur hilang. Sedikit banget kata kangen dan sayang, ataupun I Love You yang terucap atau tercetak di SMS2 kami. Banyak juga ya yang sudah berubah.

Selain itu, kalau dari sudut pandang gw, gw merasa kami berbeda prinsip. Dia mungkin karena hidup di keluarga Chinese yang fokusnya itu adalah materiil jadi itu menjadi tuntutan hidup. Tuntutan buat dia, juga tuntutan buat gw andai-andai gw mau serius sama dia. Sedangkan, gw tidak menganggap materiil itu segalanya dan prioritas utama. Gw merasa terpanggil untuk kerja sosial dan itu pastinya tidak akan menghasilkan uang yang banyak. Lalu, keluarga dia yang cukup keras didikannya berbanding terbalik dengan bokap nyokap gw yang santai tapi pasti. Serta beberapa passion yang juga berbeda, dia dengan nyanyi dan choirnya serta impiannya ke luar negeri yang membuatnya cukup sibuk dengan keaktifan di paduan suara hingga saat ini tiba-tiba ingin lanjut studi ke Jerman tanpa pikir panjang. Dan gw dengan passion yang sebenarnya ga jelas, tetapi sejauh ini gw senang sibuk di organisasi Katolik dan senang mengaktualisasikan diri gw disana.

Hal-hal yang membedakan kami ini secara tidak langsung merubah penempatan 'pacar' pada tabel prioritas kami. Gw mungkin masih bisa menempatkan dia diatas, bukan diatas segalanya sih, at least masuk 5 besar lah. Mungkin kalo gw ga akan di paling atas banget karena sejak awalpun dia mengatakan kalau pacaran itu dibawa sambil jalan saja dan tidak perlu sebegitu diprioritaskannya. Bahkan, kalau ditilik secara pribadi, dulu dia pernah bilang andaikata gw ga pernah menyatakan cinta sama dia, dia tuh ga apa-apa. Bisa disimpulkan gw tidak sebegitu diharapkannya untuk menjadi pacar dia, namun karena dia mungkin ingin memberikan kesempatan buat merubah status jomblo pada waktu itu jadi akhirnya kita jadian. Agak aneh ya kalau gw pikir-pikir. Namun itu lah hal yang cukup teringat di benak gw.

Oh iya untuk menegaskan, ini semua cuman dari sudut pandang gw ya. Kalau terasa bias, nanti mungkin gw akan menuliskan lagi di postingan baru setelah gw ngobrol sama dia. :)

Well-well-well, Gw ga gitu tahu ya mesti kayak gimana. Cuman yang gw rasakan tuh cukup capek aja sih. Bukan jadi prioritas utama, menunggu waktu hingga dia pergi ke Jerman dan sudah pasti putus. Kan ga enak juga ya, menunggu bom waktu gitu kesannya. Sesuatu yang udah pasti. Kalau nanti dia pergi, dia akan excited di dunia barunya di sana dan mungkin gw di sini malah sedih. Gw ga mau sih kayak gitu. Gw merasa lebih baik gw melepaskan semuanya sebelum bom waktunya meledak nantinya. Udah 2 kali gundah-gundah bom waktu ini gw rasain, di awal tahun dia pengen ke Australia dan udah ngestate juga soal LDR = putus. Akhirnya ga jadi. Trus awal Oktober ini tiba-tiba ga ada angin ga ada ujan dia mau ke Jerman. huff..

Well then, yah kesimpulannya sih mungkin gw ga mau melanjutkan hubungan ini. Udah cukup capek sih jujur aja. Memang terlepas dari semua argumen gw, gw juga ga bersikap sebaik yang dia inginkan juga. Gw mungkin juga egois, seharusnya gw mendukung dia sampai dia pergi nanti, mencoba lebih mengerti kalau dia inginnya ini itu, mencoba menerima prinsip dan keadaan diri dia, dan lain-lainnya. Dulu gw mencoba melakukan itu namun lama-lama gw tidak melakukan itu lagi karena muncul rasa egois seperti ini: Apakah dia mengerti dan memikirkan perasaan dan prinsip gw juga kah? I don't really know honestly, or maybe I don't realise.. Pada akhirnya yaaa.. gw waiting for the end deh..

Yah, gw akan berusaha merendah juga, gw bukan cowok yang baik juga sih. Dan mungkin dia pantas mendapatkan yang lebih baik. Begitu juga dengan gw sendiri. Menurut gw, nantinya sih kita ga akan kenapa-kenapa. Pastinya akan ada waktunya untuk menyesuaikan diri masing-masing tapi gw looking forward banget untuk berteman baik dengan dia. Gw kangen juga dengan obrolan-obrolan yang 'berat' sama dia dulu, yang sekarang ga pernah muncul lagi. Dan pastinya gw akan sedih, bercampur kesal dan gundah. Namun gw menyatakan kalau gw ga pernah menyesal atas semua yang gw pilih, mulai dari nembak dia, pacaran hingga ketika harus mengakhirinya. Semuanya ini pengalaman yang seru dan berharga kok buat gw..:)

Cuman, kata Mikey and Chester, I'm holding on to what I haven't got.. After this, gw looking forward banget untuk mencari segala sesuatu yang belum gw dapatkan..:)

So this maybe the end, but not sad ending loh..:)

Sekian ya..
Adieu..

And this is the song..

"Waiting For The End"


[Mike:]
This is not the end, this is not the beginning
Just a voice like a riot rocking every revision
But you listen to the tone and the violent rhythm
Though the words sound steady something empty's within them
We say yeah with fists flying up in the air
Like we're holding onto something that's invisible there
Cause we're living at the mercy of the pain and the fear
Until we dead it, forget it, let it all disappear


[Chester:]
Waiting for the end to come
Wishing I had strength to stand
This is not what I had planned
It's out of my control
Flying at the speed of light
Thoughts were spinning in my head
So many things were left unsaid
It's hard to let you go


I know what it takes to move on
I know how it feels to lie
All I want to do
Is trade this life for something new
Holding on to what I haven't got


Sitting in an empty room
Trying to forget the past
This was never meant to last
I wish it wasn't so


I know what it takes to move on
I know how it feels to lie
All I want to do
Is trade this life for something new
Holding on to what I haven't got


[Mike:]
What was left when that fire was gone
I thought it felt right but that right was wrong
All caught up in the eye of the storm
And trying to figure out what it's like moving on
And I don't even know what kind of things I said
My mouth kept moving and my mind went dead
So I'm picking up the pieces, now where to begin
The hardest part of ending is starting again


[Chester(till end):]
All I want to do
Is trade this life for something new
Holding on to what I haven't got
I'm holding on to what I haven't got
I'm holding on to what I haven't got


[Mike:]
This is not the end, this is not the beginning
Just a voice like a riot rocking every revision
But you listen to the tone and the violent rhythm
Though the words sound steady something empty's within them
We say yeah with fists flying up in the air
Like we're holding onto something that's invisible there
Cause we're living at the mercy of the pain and the fear
Until we dead it, forget it let it all disappear 

0 comments: